Selasa, 07 Februari 2017

Review: Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991



Judul: Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Halaman: 344
Tahun terbit: 2015

Blurb:


"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap."―Milea

"Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama."―Dilan

Thoughts: 

Setelah dibuat jatuh cinta sama sosok Dilan di buku pertama Dilan karya Pidi Baiq ini, akhir tahun 2015 lalu, saya akhirnya baca buku keduanya. Dia adalah Dilanku tahun 1991 ini adalah seri kedua atau lanjutan dari Dia adalah Dilanku tahun 1990. Saya baca buku keduanya ketika saat itu buku ketiganya udah muncul, tapi saya malah baru baca yang keduanya. Hahaha.

Akhir dari buku pertamanya kan waktu Dilan sama Milea resmi pacaran, nah buku kedua ini mengisahkan cerita-cerita Dilan dan Milea setelah resmi berpacaran. Di awal-awal bab, kita masih disuguhi manis dan romantisnya sosok Dilan seperti di buku yang pertama. Saya pun masih dibuat jatuh cinta sama sosok Dilan ini di buku keduanya. Dilan yang lucu, nakal, tapi loveable ini bikin saya senyum-senyum kesenengan baca bukunya.

Tapiiii, masuk ke pertengahan buku ini, hati saya dijungkirbalikan! Ternyata bener ya kalau masa paling indah waktu pacaran itu pas PDKT doang. Hal yang sama pun terjadi sama hubungan Dilan sama Milea ini. Walaupun Lia sayang banget sama Dilan tapi Lia juga dibuat galau sama nakalnya Dilan. Lia terpaksa harus bertindak. Dan berkali-kali ancaman putus itu diungkapkan Lia dengan tujuan mengancam Dilan kalau dia masih kekeuh main sama geng motornya itu.

Milea nggak minta banyak, dia cuma pengen Dilan jadi remaja biasa dan meninggalkan dunia geng motornya itu.  Sebagai wanita, aku bisa ngerasain gimana galaunya Lia punya pacar kaya Dilan ini. Lia pun ngelakuin ini pasti karena dia sayang sama Dilan, nggak mau terjadi apa-apa sama Dilan.

“… Bukan apa-apa, aku takut dia akan mendapat hal buruk oleh karena itu.” - Milea

Tapi ya, setiap orang punya prinsipnya masing-masing. Nggak semua orang mau diatur-atur, bahkan untuk kebaikan dirinya sendiri. Aku sampe nangis-nangis bacanya saking galaunya :’)

“Aku tidak ingin mengekangmu, terserah! Bebas kemana engkau pergi, asal aku ikut” - Milea

Sikap Milea yang seolah mengekang dan over-protective bikin Dilan risih juga dan sekalipun Dilan cinta banget sama Lia, akhirnya Dilan nyerah juga sama sikapnya Lia yang gak sejalan sama keinginan Dilan. Selanjutnya, Dilan dan Milea pun putus.

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah” - Dilan

Aku juga bisa ngerasain gimana galaunya Dilan.  Dilan sayang sama Milea, tapi dia juga punya hidupnya sendiri.  Dilan nggak mau masa remajanya diatur-atur. Mungkin Dilan pikir, si Bunda aja nggak pernah ngekang, tapi kok pacarnya sendiri malah kayak gitu.

“Dilan juga sama, waktu itu masih remaja, yaitu masih anak remaja yang harus dimaklumi kalau punya jiwa pemberontak dan tidak suka diatur. Yaitu, anak remaja yang masih harus dimaklumi kalau kadang-kadang tidak bisa menahan keinginannya. Yaitu, anak remaja yang masih harus dimaklumi kalau unek-unek di dalam hatinya suka berubah menjadi rasa dendam karena disimpan” – Milea


Thoughts:

Baca bukunya yang kedua ini bener-bener berbeda dari kesan setelah membaca buku pertama, bener-bener kecewa. Walaupun kata-kata di buku ini dibuat sesederhana mungkin oleh si surayah, tapi maknanya beneran ngena ke hati. Baper banget bacanya.  

Di buku kedua ini, banyak karakter-karakter baru yang muncul. Yugo, saudara jauh Lia yang pengen ke dia dan jadi awal dari kesalahpahaman Dilan dan Milea. Ada juga pak Dedi, guru Lia yang juga pengen ke dia dan suka ngegombalin terus. Dan, mas Herdi, suaminya Milea. Iya, suami. Gak salah baca, kok.

Entah kenapa, aku jadi sebel sama Dilan karena dia nggak bisa mertahanin gitu. Ketika Lia mutusin dia, kayak gak ada tindakan dari dia buat ngejar Lia. Walaupun, di buku ketiga diceritain kenapa Dilan kayak gini. Tapi kan…

Aku pun agak sebel sama Lia yang terlalu mengekang! Ya tau sih, namanya juga sayang, takut Dilan bernasib sama seperti Akew. Aku pun ngerti mereka masih remaja, makanya gitu. Tapi kan…
Ah pokoknya hatiku amburadul, sedih, nangis abis baca ini. Tapi dari buku ini, aku jadi belajar kalau takdir itu lebih kuat dari keinginan kita. Dilan pengen Milea, Milea pun pengen Dilan, tapi kalau bukan takdirnya harus bersatu, ya mau digimanain lagi?

4.5/5 stars buat buku ini walaupun bikin aku nangis :’) Surayah, jahat…


0 comment: